Selasa, 06 Mei 2014

Peluang Usaha Rumahan Modal Kecil Untung Milyaran

Peluang Usaha Rumahan Modal Kecil Untung Milyaran - Dalam acara bertajuk ShopFair Kopdar Online Shop yang digelar Kamis (4/7) lalu, Ketua Dewan Pengawas Asosiasi E-commerce William Tanuwijaya mengatakan bahwa ibu rumah tangga adalah kalangan yang paling potensial dalam bisnis online. Dengan kata lain, kalangan yang paling sukses berjualan online adalah kelompok ibu rumah tangga. Menurut William, kisah-kisah sukses para penjual online banyak berasal dari bisnis yang dikelola oleh ibu rumah tangga. Yang menarik untuk ditelisik lebih lanjut, mengapa demikian?

Sebagian besar ibu rumah tangga yang berbisnis online hampir dapat dipastikan akan mendulang kesuksesan, apapun jenis bisnis yang dijalaninya. Diperkuat oleh riset yang dilakukan oleh berbagai lembaga e-commerce internasional, sedikitnya ada 6 alasan mengapa ibu rumah tangga adalah kalangan yang paling sukses menjalankan bisnis online.

    Pada dasarnya, semua perempuan suka berbelanja.

    Fakta ini sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat. Seorang perempuan boleh saja mengaku bahwa ia tidak hobi berbelanja seperti kebanyakan perempuan pada umumnya. Namun dibandingkan pria, perempuan yang tidak suka berbelanja sekalipun lebih mudah terbujuk untuk melakukan pembelian di toko offline maupun online.

    Fakta bahwa kaum perempuan hobi berbelanja membuat para ibu rumah tangga yang berbisnis online mengetahui apa yang diinginkan oleh konsumen. Pihak yang paling paham tentang apa yang dibutuhkan oleh konsumen adalah si pembeli itu sendiri. Karena senang berbelanja–alias senang menjadi bagian dari konsumen–kaum perempuan memahami dengan seksama apa yang dicari pembeli saat berbelanja. Pengetahuan mengenai apa yang diinginkan konsumen “diterjemahkan” dalam produk-produk yang dijual oleh toko online milik ibu rumah tangga tersebut. Tak heran, produk di toko online miliki ibu rumah tangga memiliki angka penjualan yang tinggi sebab mampu memenuhi kebutuhan pembeli.

        Faktanya,
        60% transaksi online di seluruh dunia melibatkan ibu rumah tangga, baik sebagai pembeli maupun penjual online.

    Fleksibilitas waktu untuk berbisnis

    Perempuan yang sudah menikah seringkali mengeluh bahwa pekerjaan rumah tangga sesungguhnya lebih berat daripada pekerjaan di kantor. Mengurus tetek-bengek di rumahnya dan merawat anak menyita waktu ibu rumah tangga selama 24 jam per hari. Jika dilihat secara sekilas, ibu rumah tangga memang terkesan lebih sibuk dibanding wanita karir yang jam kerjanya dibatasi oleh jam operasional kantor.

    Meskipun demikian, ibu rumah tangga yang menggunakan jasa pembantu rumah tangga akan memiliki waktu luang yang banyak. Dalam hal merawat anak, ibu rumah tangga pun juga akan memiliki waktu kosong ketika si anak telah mandiri, minimal telah bersekolah di jenjang SD. Praktis, waktu luang yang dimiliki ibu rumah tangga pun menjadi banyak.

    Keleluasaan waktu luang ini membuat para ibu rumah tangga menjadi fleksibel dalam berbisnis. Mereka siap menanggapi setiap pesanan, kapanpun pembeli tertarik berbelanja di toko online-nya. Fleksibilitas waktu berbisnis juga membuat ibu rumah tangga bebas menentukan kapan waktu untuk bekerja dan kapan waktu untuk bersantai.

        Faktanya,
        Per hari, 13 jam waktu yang dimiliki ibu rumah tangga dihabiskan untuk berselancar di toko online, baik sebagai pembeli maupun penjual.

    Hiburan di media yang tidak menghibur

    Tidak sedikit pemilik media massa—ambil contoh stasiun televisi—yang berorientasi pada rating semata. Karena mengedepankan faktor selera pasar, mereka yang berkecimpung di dunia media seringkali mendewakan rating sebagai satu-satunya tolak ukur keberhasilan sebuah program atau acara. Dampaknya, tidak sedikit pelaku media yang menyuguhkan tayangan atau materi publikasi yang tidak mendidik dan berkualitas rendah.

    Di Indonesia sendiri, stasiun televisi lokal diwarnai oleh ‘kehadiran’ sinetron-sinetron low budget yang mengesampingkan faktor kualitas tayangan. Di satu sisi, tayangan semacam ini memang digemari oleh sebagian khalayak. Namun, ada kalangan tertentu yang jengah dengan suguhan-suguhan berkualitas rendah yang ditampilkan di media.

    Kalangan yang merasa jengah ini—sebagian besar berasal dari kalangan ibu rumah tangga—kemudian mencari alternatif lain untuk mengisi waktu luangnya, salah satunya dengan berbisnis online. Daripada menonton acara televisi yang tidak mendidik, ibu rumah tangga lebih memilih memikirkan cara untuk memperoleh penghasilan tambahan bagi keluarganya.

        Faktanya,
        Jika diminta membuang satu perangkat digital yang dimilikinya, 58% ibu rumah tangga akan menyingkirkan televisi. Hanya 11% ibu rumah tangga yang akan menyingkirkan laptop-nya.

    Insting bergunjing

    Sama seperti kegemaran berbelanja, bergunjing atau bergosip adalah naluri seorang perempuan. Insting untuk menyebarluaskan sebuah informasi, terlepas dari apakah informasi tersebut benar atau tidak, terdapat dalam diri kaum perempuan. Uniknya, insting menyebarluaskan informasi ini membawa dampak positif bagi bisnis online.

    Ibu rumah tangga yang berbisnis online tidak akan ragu atau malu menyebarluaskan informasi bahwa toko onlinenya sedang mengadakan promo. Dengan insting bergunjing yang dimilikinya, ia akan menyebarluaskan info terbaru dari toko online-nya kepada sebanyak-banyaknya relasi. Terbukti, insting bergunjing dan menyebarluaskan informasi ini memperluas koneksi bisnis sehingga membantu ibu rumah tangga untuk menaikkan angka penjualan di toko online.

        Faktanya,
        Baik sebagai pembeli maupun penjual, 92% ibu rumah tangga akan meneruskan informasi tentang potongan harga atau promo lainnya kepada orang lain yang dikenalnya ataupun tidak.

    Ibu rumah tangga: pengambil keputusan saat berbelanja

    Berbelanja bulanan termasuk ke dalam salah satu job desc ibu rumah tangga. Tidak hanya keperluan-keperluan bulanan, ibu rumah tangga juga berbelanja kebutuhan anggota keluarga lainnya.

    Pada banyak kasus, ibu rumah tangga merasa tahu apa yang terbaik bagi kebutuhan anggota keluarganya. Sebagai contoh, ibu rumah tangga tahu merek pakaian paling bagus untuk suaminya, merek sereal terbaik untuk anak-anaknya, dan merek-merek terbaik kebutuhan pokok lainnya. Dengan kata lain, ibu rumah tangga bertindak sebagai pengambil keputusan saat berbelanja.

    Apapun jenis usaha yang dijalankan oleh seorang ibu rumah tangga, ia pastinya merasa bahwa produk yang dijualnya adalah produk yang terbaik. Karena menjual produk terbaik, ibu rumah tangga akan menggunakan produk yang dijualnya sendiri untuk memenuhi kebutuhan anggota keluarga lainnya. Tak jarang, seorang ibu rumah tangga membeli sendiri dagangannya untuk dikonsumsi oleh suami atau anak-anaknya.

    Lebih dari itu, ibu rumah tangga juga akan menawarkan dagangan kepada sanak saudara lainnya. Banyaknya pembelian produk dari keluarga inti dan keluarga besarnya sendiri memberikan dampak yang signifikan bagi angka penjualan produk di toko online milik ibu rumah tangga.

        Faktanya,
        75% ibu rumah tangga menganggap dirinya tahu yang terbaik bagi kebutuhan keluarganya. Mereka “menobatkan” dirinya sendiri sebagai si pengambil keputusan saat berbelanja.

    Menjual produk terpopuler dalam bisnis online

    Sebagian besar penjual produk fesyen adalah kaum perempuan dan ibu rumah tangga. Produk fesyen yang feminim cocok dengan sifat dasar perempuan. Oleh karenanya, banyak produk fesyen dijual oleh ibu rumah tangga.

    Yang menarik, produk fesyen termasuk ke dalam produk best seller dalam bisnis online, bahkan hingga pasar internasional. Berkaca pada fakta tersebut, tak heran jika ibu rumah tangga yang berbisnis produk fesyen memiliki angka penjualan yang tinggi.

        Faktanya,
        36% pembeli online mencari produk fesyen. Produk fesyen menempati urutan kedua dalam daftar produk terpopuler yang dicari pembeli online. Produk terpopuler yang berada di urutan pertama adalah buku.


Nah, apakah anda tertarik dengan usaha rumahan untuk ibu rumah tangga seperti ini?

Sumber data: She-Economy, Ms Smith Marketing, StartUpNation, Clickz, Inc.com, Girlpower Marketing, Catalyst, Forbes.